Apa dan Siapa Itu Suku Baduy (Bag.1)

Suku Baduy berjalan menuju kota.

Nama Baduy merujuk pada sebuah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang merupakan salah satu dari ribuan suku yang ada di Indonesia. Suku Baduy secara administratif berada di wilayah sekitar Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pegunungan Kendeng sendiri berada pada ketinggian antara 300 – 1200 meter di atas permukaan laut dengan suhu berkisar antara 16o – 30o C. Luas wilayah yang ditempati suku Baduy adalah seluas 5.136 Ha yang telah diakui dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Jarak wilayah suku Baduy dengan ibukota kecamatan Leuwidamar adalah 17 Km, 40 Km dengan ibukota kabupaten Kota Rangkasbitung, sekitar 95 Km dengan ibukota provinsi Kota Serang, dan kurang lebih 150 Km dengan DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Kondisi alam yang berbukit-bukit, jalan setapak yang berbelok-belok, naik-turun, curam, dan tebing dengan kemiringan 60o – 90o, membuat wilayah suku Baduy, terutama Baduy Dalam, hanya bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dengan menempuh jarak lebih dari 10 Km. Namun kampung terluar dari suku Baduy hanya berjarak 100 meter dari pemberhentian kendaraan terakhir.

Suku Baduy terdiri dari dua wilayah adat yaitu Baduy Dalam yang terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, Cikeusik; dan Baduy Luar yang terdiri dari 56 kampung dengan jumlah penduduk 1.170 jiwa tinggal di Baduy Dalam dan 10.002 jiwa tinggal di Baduy Luar. Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan berocok tanam di kebun yang biasa disebut huma. Beberapa dari mereka menjual hasil tani seperti buah-buahan, hasil palawija, gula aren, dan hasil dari kebun lainnya. Namun ada larangan untuk menjual padi yang telah mereka panen. Kepercayaan yang mereka anut disebut Sunda Wiwitan yang mengacu pada kepercayaan nenek moyang atau animisme. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten. Sebagian dari mereka dapat berbicara bahasa Indonesia disebabkan komunikasi dengan masyarakat luar yang datang. Masyarakat suku Baduy tidak mengenal budaya tulis-menulis dan sekolah formal. Budaya dan ‘kitab suci’ mereka tersimpan rapi dalam bentuk lisan secara turun temurun.

Sesungguhnya suku Baduy bukanlah suku yang mengasingkan diri bahkan terasing, tetapi mereka hanya suku yang sengaja menghindar dari modernisasi dunia luar, menetap dan menutup diri mereka dari pengaruh budaya luar yang dianggap negatif dan bertentangan dengan adat. Ini semua dalam rangka menunaikan amanat leluhur yang mewasiatkan untuk selalu memelihara keseimbangan dan keharmonisan alam semesta. Maka tidak heran jika keseharian masyarakat suku Baduy hidup dengan sederhana dan apa adanya, membatasi segala hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi yang berlebihan, dan hidup dengan berpedoman pada adat yang telah terpelihara. Sikap-sikap ini antara lain ditunjukkan dengan pakaian sehari-hari yang digunakan hanya 2 warna, keseragaman bentuk dan arah rumah yang menghadap utara-selatan, jenis pekerjaan yang hanya berocok tanam (bertani di huma), tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan kendaraan kemanapun pergi, larangan menggunakan alat-alat elektornik, dan larangan memfoto kawasan Baduy Dalam.

Asal-usul penamaan Baduy memiliki banyak sejarah dan sudut pandang. Mulai dari referensi yang menyebutkan bahwa sebutan Baduy berasal dari peneliti Belanda yang mempersamakan mereka dengan kelompok masyarakan Arab Badawi, kemudian yang menyebutkan berasal dari nama sungai Cibaduy dan bukit Baduy yang berada di sekitar pegunungan Kendeng, hingga penamaan lain yang sering kita dengar dengan nama urang Kanekes dan urang Rawayan. Asal-usul masyarakat Baduy itu sendiri pun memiliki banyak versi. Hal ini akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Leave a Reply